rektoratumsrappang@gmail.com 6285343933735 Jl. Angkatan 45 No. 1A Lt.Salo Rappang Sidrap
Muhammadiyah Kembali Pada Alquran dan Sunnah, Tapi Tidak Kering dan Tidak Tekstual By Dian Nugraha Zadry  11 Okt 2021, 12:00:07 WIB

Muhammadiyah Kembali Pada Alquran dan Sunnah, Tapi Tidak Kering dan Tidak Tekstual

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Dalam pandangan keagamaan, Muhammadiyah sesuai manhaj Tarjih memiliki tiga kombinasi pendekatan yang harus dilakukan secara integral (menyeluruh), yakni pendekatan bayani (dalil), burhani (disiplin ilmu), dan irfani (hikmah).

Di antara tiga pendekatan itu, pendekatan secara bayani melalui Alquran dan Sunnah sejatinya tidak bersifat letterlijk atau tekstual, tapi juga mengembangkan ijtihad.

Dalam penutupan Baitul Arqam PWM Sulawesi Selatan, Ahad (10/10) Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyeru agar para mubaligh, kader, anggota dan pimpinan Muhammadiyah memahami keterangan ini.

“Nah ini harus menjadi patokan. Sehingga nanti ketika ada orang ingin menyampaikan bahwa ar ruju’ ilal quran dan sunnah itu kosong, itu tidak benar. Jelas isi, yakni dengan kita mencoba memahami berbagai tafsir, berbagai pandangan, tapi kemudian Tarjih mencari kodifikasi yang kuat dengan tiga pendekatan tadi,” katanya.

Untuk memahami dalil, Muhammadiyah menurut Haedar menggunakan berbagai macam tafsir hingga pembedahan detail kata yang dilakukan secara jama’I (organisasi) sehingga potensi kesalahan terminimalisir.

“Nah ini agar kita tidak goyah ketika ada banyak kritik. Kritik kita terima tapi itulah rujukan kita.Tapi juga jangan keringrujukan kita selain Alquran dan Sunnah. Tidak membaca secara mendalam, secara bayani, burhani, dan irfani yang interkoneksi, nah itulah yang dikritik orang. Ar ruju ilal quran dan sunnah tapi kok kita tidak mendalam, tidak luas, tidak multi aspek,” ingat Haedar.

Dengan pemahaman interkoneksi ini, Haedar percaya para mubaligh, kader, anggota, dan pimpinan Muhammadiyah akan memiliki bingkai yang kokoh dalam ber-Muhammadiyah.

“Sehingga dengan bayani, burhani, dan irfani itu kita bisa mencandera, mengikat paham dan memahaminya secara mendalam, sehingga itulah yang akan menjadi rujukan kita. Berbagai tafsir, aliran itu kita pelajari dan jangan malah tidak kita pelajari. Supaya apa? supaya wawasan kita luas. Tapi dengan berbagai pendekatan tadi insyaallah kita sampai pada substantsi yang kita yakini benar di dalam rujukan kita memahami Alquran, Assunah maupun Islam secara keseluruhan,” tegasnya.

(https://muhammadiyah.or.id/muhammadiyah-kembali-pada-alquran-dan-sunnah-tapi-tidak-kering-dan-tidak-tekstual/)